Ketindihan? Benarkah Karena Ada Hubungannya dengan Makhluk Halus? Mitos atau Fakta?
April 29, 2016
0

Ketindihan dipercaya sebagian besar masyarakat Indonesia disebabkan karena adanya kehadiran makhluk halus yang ‘menindih’ disaat kita terlelap. Benarkah?

Faktanya ketindihan atau Sleep Paralysis bukan disebabkan karena adanya kehadiran makhluk halus namun hal tersebut berkaitan siklus tidur manusia. Berikut penjelasannya secara ilmiah dan psikologis.

 

Apa itu Sleep Paralysis?
Sleep Paralysis merupakan salah satu jenis gangguan tidur dimana seseorang merasa lumpuh tidak bisa bergerak dari tidurnya. Orang tersebut sadar, dan mengetahui, melihat atau mendengar seluruh yang terjadi disekitarnya (seluruh inderanya aktif), tetapi tidak mampu menggerakkan otot-ototnya, seakan-akan ada yang menindih. Menurut seorang peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, Al Cheyne, Sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap Rapid Eye Movement (REM). Menurut The American Sleep Disorder Association (1990) Sleep paralysis terjadi ketika seseorang berada pada tidur paling dalam saat seluruh otot relaksasi. Akan tetapi, perubahan tahapan tidur secara mendadak akibat gangguan siklus tidur menyebabkan seseorang tersadar. The American Sleep Disorder Association mendefinisikan bahwa sleep paralysis adalah ketidakmampuan tubuh mengendalikan otot volunteer selama sleep onset (gypnagogic) atau selama terbangun di antara waktu malam dan pagi (hypnopompic).  Menurut Gillian (2008) Sleep paralysis didukung dengan halusinasi, perasaan tercekik, dan sulit menggerakkan lidah. Dalam keadaan ini, seseorang dapat membuka mata, menggerakan bola mata, dan melihat sekeliling.  Menurut Ohaeri et al (2004) Sleep paralysis bersifat sementara, biasanya terjadi satu hingga beberapa menit. Sleep paralysis akan menghilang secara spontan atau dengan stimulus eksternal. Biasanya dengan sentuhan atau dibangunkan oleh orang lain. “Sleep Paralysis” secara umum memiliki gejala-gejala sebagai berikut : 1. Ketidakmampuan menggerakkan tubuh dan otot saat tidur atau terjaga dari tidur. 2. Kadangkala disertai halusinasi dan kejadian seperti mimpi. 3. Kadangkala terjadi beberapa kali atau berulangkali dalam satu periode tidur.

Terdapat 2 jenis tahapan tidur yaitu Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Ketika kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke tahap REM. Dan ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, ketika itulah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Menurut Cheyne (2002) menyebutkan bahwa terdapat dua sistem otak yang berkontribusi dalam terjadinya sleep paralysis. Sistem otak yang paling mempengaruhi terjadinya sleep paralysis adalah struktur inner-brain/bagian dalam otak yang mengatur ancaman dan tanggapan terhadap bahaya dalam hal ini yang dapat memicu seseorang melihat sosok yang mengintai dalam kegelapan di dekatnya.  Sistem otak yang kedua, meliputi bagian sensorik dan motorik dari lapisan luar otak, yang membedakan tubuh seseorang dengan orang lain serta makhluk lainnya. Ketika aktivitas REM memicu sistem ini, seseorang akan mengalami sensasi mengambang, terbang, jatuh, dan jenis-jenis gerakan lainnya.

 

Penyebab Sleep Paralysis
Menurut Culebras (2011), Sleep paralysis dapat terjadi dikaitkan dengan beberapa hal, seperti

  1. Kurang tidur
    Misalnya pada status siswa/mahasiswa yang belajar hingga larut malam. Jadwal tidur yang berubah-ubah, misal jet-lag.
  2. Kondisi mental, seperti stres, dan seseorang yang mengalami schizophrenia dengan gangguan berat pada sleep nocturnal.
  3. Sleeping on the back
    Tidur dengan posisi terlentang dapat menyebabkan tingginya angka kejadian sleep paralysis.
  4. Masalah tidur lainnya
    Kejadian tidur seperti narkolepsi dan kram pada kaki di malam hari dapat mengganggu tidur tahap REM dan berkontribusi terhadap timbulnya sleep paralysis.
  5. Penyalahgunaan zat kimia, Seseorang yang minum alkohol dapat mudah terserang sleep paralysis.

 

Pencegahan Sleep Paralysis

  1. Lingkungan tidur yang nyaman. Misalnya dengan memperhatikan tempat tidur, bantal, kebisingan, atau suara yang mengganggu.
  2. Jadwal dan pola tidur yang teratur dan cukup.
  3. Membiasakan tidur teratur (misalnya, setiap malam).
  4. Olahraga teratur, tetapi jangan terlalu dekat dengan waktu tidur.
  5. Menghindari stres.
  6. Membuat gerakan kecil Jika mengalami sleep paralysis, seperti gerakan mata cepat, menggerakkan ujung kaki, tangan atau mnggerakkna kepala sekencang-kencangnya serta menarik nafas dalam dan dikeluarkan secara teratur
  7. Membuat Gerakan Mental Kondisi pada saat sleep paralysis terjadi dapat membuat panik dan ketakutan sehingga akan memunculkan alam bawah sadar tentang ketakutan kita sendiri sehingga terkadang terbayang penggambaran adanya makhluk halus. Mulut kelu dan susah bergerak ketika sleep paralysis bukanlah pergerakan fisik yang sebenarnya, melainkan gerakan mental. Para ahli menganjurkan untuk terus berusaha “melawan” dan menggerakkan anggota tubuh melalui kekuatan pikiran . (wrm-indonesia.org, Mei 2005). Karena itu tetaplah tenang dan berfikir positif jika sleep paralysis itu terjadi. Sikap yang tenang akan meminimalkan muculnya ketakutan dan penggambaran bayangan yang buruk.
  8. Menghindari obat stimulan.
  9. Pengobatan Medis
  10. Jika terlalu sering mengalami sleep paralysis, maka selain cara-cara diatas yang telah dilakukan, maka perlu untuk evaluasi diri. Untuk itu bisa dengan buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa pekan dan susun daftar masalah-masalah yang menyita pikiran. Dengan cara tersebut membantu untuk mengetahui faktor pemicu terjadinya sleep paralysis, sehingga gangguan tidur tersebut dapat diatasi dengan menghindari faktor pemicunya. Lain halnya jika sleep paralysis disertai gejala lain, maka ada baiknya segera pergi ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur. Catatan yang sudah dibuat sebelumnya akan membantu dokter untuk mengetahui kapan sleep paralysis dimulai dan sudah berlangsung lama, juga jenis obat yang pernah atau sedang digunakan.
  11. Edukasi kesehatan tentang kebiasaan tidur teratur dan pola tidur sehat.

 

Meskipun sleep paralysis ini biasa terjadi dan dialami oleh semua orang, tetapi gangguan tidur ini patut diwaspadai dengan cara menerapkan langkah-langkah pencegahan atau antisipasi yang ada. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.

 

Daftar Pustaka

http://www.psychologymania.com/2012/02/sleep-paralysis-gangguan-tidur-antara.html

http://www.kompasiana.com/cupi.smart/ketindihan-ketika-tidur-mitos-atau-ilmiah_54ff5e6fa33311ec4f50fa48

elib.unikom.ac.id/download.php?id=252867

www.kalbemed.com/Portals/6/33_197Opini-Fenomena%20Tindihan.pdf