Putus Cinta Dalam Psikologi
April 29, 2017
0

Udah pernah putus cinta? Gimana sih rasanya?

 

Sebagian dari kita sudah pernah merasakan rasa sakit karena putus cinta, entah karena diselingkuhin, dikhianatin, diputusin tanpa alasan, tidak mendapat restu orang tua, dan lain-lain . Tetapi, apapun alasannya, rasa sakitnya sama.

 

Dewasa ini, putus cinta seolah sudah menjadi teman di dalam umur kita yang sudah menginjak remaja. Putus cinta juga dianggap sebagai hal yang wajar oleh kebanyakan orang, karena menurut mereka, putus cinta merupakan proses dari pendewasaan. Banyak yang beranggapan bahwa putus cinta merupakan hal yang sangat menyakitkan, netah bagi pasangan telah menjalin hubungan yang lama ataupun singkat. Pada usia remaja, pasti akan merasakan mencintai, menghargai, menghormati, berbagi, dan rela berkorban untuk pasangannya. Ketika jatuh cinta terhadap lawan jenis, remaja merasa bahwa dunia adalah milik berdua. Tetapi sebaliknya, ketika putus cinta, remaja menganggap bahwa dunia seakan runtuh dan dirinya merasa menjadi orang paling menderita di dunia ini.

 

Orang-orang memiliki reaksi yang berbeda ketika mengalami putus cinta, ada yang bereaksi secara biasa saja, atau bahkan mengganggap putus cinta adalah hal yang wajar dan mereka akan kembali menemukan pasangan yang baru dan lebih baik. Ada juga yang bereaksi secara berlebihan, sampai mereka nekat mengakhiri hidupnya ketika mengetahui pasangan mereka telah bersama orang lain atau telah memilih orang lain.

 

Ketika putus cinta, biasanya yang terjadi adalah sesak yang terasa, nafsu makan yang berkurang, tidak ingin berbicara dan tentunya menangis. Tetapi biasanya, perempuan cenderung lebih terlihat ketika mereka sedang mengalami patah hati karena putus cinta. Hal ini wajar dirasakan oleh remaja, karena sesuai dengan ciri-ciri dan tugas-tugas perkembangannya bahwa pada masa ini remaja akan merasa tertarik terhadap lawan jenis.


Tidak heran apabila remaja yang putus cinta akan merasakan kesedihan, serta kekecewaan yang mendalam dan berujung pada tindakan-tindakan negatif seperti bolos sekolah, mengurung diri di kamar, stres, kehilangan semangat, merokok, meminum minuman keras, bahkan adapula yang melakukan bunuh diri. Menurut penelitian, perempuan lebih sering mengungkapkan emosi mereka, entah lewat tangisan ataupun tulisan dibandingkan laki-laki. Biasanya, laki-laki cenderung lebih tertutup tentang masalah cinta dibandingkan perempuan, yang selalu bertukar cerita dengan teman dan sahabat mereka. Laki-laki dengan kelompok sebayanya biasanya bercerita mengenai hobby mereka dibandingkan dengan masalah percintaan dan isi hati mereka. Untuk masalah cinta, laki-laki lebih berdiam diri. Begitu juga ketika laki-laki mengalami putus cinta, mereka cenderung menyimpan perasaan mereka sendiri dibandingkan bercerita.

 

Putus cinta didefinisikan sebagai sebuah kejadian berakhirnya suatu hubungan cinta yang telah dijalin dengan pasangannya. Yuwanto (2011) Seseorang yang masih mencintai pasangannya dan kemudian mengalami putus cinta biasanya akan menampilkan suatu reaksi kehilangan, terutama diawal putus cinta. Hal ini terjadi karena seseorang yang mengalami putus cinta masih terbayang akan hari-hari yang dilewati sebelumnya dengan pasangan mereka, dan ketika hubungan mereka kandas ditengah jalan, maka mereka harus belajar terbiasa dengan keadaan dan situasi yang baru. Tidak hanya itu, mereka juga harus terbiasa dengan status yang baru. Linda (2007) juga berpendapat bahwa putus cinta adalah ketika berakhirnya suatu hubungan yang telah dibina selama beberapa waktu tertentu, timbul lah duka dan masa berkabung.

 

Apakah kita selamanya harus merasakan patah hati akibat putus cinta?

Tentunya tidak, bukan?

 

Remaja adalah masa dimana kita dapat mencari berbagai pengalaman termasuk pengalaman mengenai cinta. Putus cinta juga merupakan proses bagaimana kita bisa menjadi individu yang lebih baik dan lebih berhati-hati dalam mencari pasangan. Putus cinta mungkin memang menyakitkan, namun dibalik kejadian tersebut, terdapat proses bagaimana menjadi individu yang lebih baik dan lebih dewasa dalam menghadapi berbagai masalah. Ketika mengalami putus cinta, tentu saja kita harus dapat tetap maju kedepan, atau lebih dikenal dengan istilah move on. Move on merupakan suatu ungkapan yang sering digunakan oleh remaja, yang diartikan sebagai “melangkah untuk melupakan kejadian yang sudah berlalu”.

 

Seringkali masalah-masalah yang muncul dalam hidupnya dirasa terlampau berat, seperti halnya ketika mengalami putus cinta, cukup banyak remaja yang lepas kendali dan tidak dapat berfikir jernih sehingga terjadi tindakan-tindakan negatif yang tidak diharapkan. Merasa stres dan marah tentunya merupakan hal yang wajar ketika ditimpa masalah putus cinta, tetapi apabila kadarnya sudah berlebihan seperti sedih yang berlarut selama beberapa bulan, penyesalan yang tak kunjung hilang atau stres yang mengganggu konsentrasi belajar, tentu dapat menjadi sebuah masalah besar, sehingga dirinya membutuhkan strategi untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik.

 

Dalam psikologi, hal ini disebut dengan coping, yaitu sebuah upaya dalam mengatasi masalah. Strategi coping adalah mengelola keadaan dan mendorong usaha untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan seseorang, serta mencari cara untuk menguasai atau mengurangi stres (King, 2010). Lazarus dan Folkman (Wardani, 2009) berpendapat bahwa ada dua bentuk strategi coping, yaitu:

  1.  Problem Focused Coping (fokus pada masalah), strategi dan cara menyelesaikan masalah yang dihadapi, sehingga individu segera terbebas dari masalahnya tersebut.
  2. Emotion Focused Coping  (fokus pada emosi), strategi untuk meredakan emosi individu yang ditimbulkan oleh stressor/sumber stres tanpa mengubah sumbernya  secara langsung. Strategi coping ini diharapkan mama membantu individu dalam menghadapi, mengendalikan, mengontrol serta berfikir jernih dalam situasi apapun.

King, A. L. (2010). Psikologi Umum (buku 2). Jakarta: Salemba Humanika.

 

Maka dari itu, ketika kita sedang mengalami putus cinta, hendaknya kita berpikir bahwa putus cinta merupakan hal yang dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang dewasa, serta memberikan kesempatan bagi orang-orang baru yang lebih baik untuk membahagiakan kita, lebih dari pasangan sebelumnya. Jangan takut untuk memulai cinta yang baru dengan orang yang juga baru, karena sebelum kita mencoba, maka kita tidak akan pernah tahu. Ketika puts cinta, hendaknya kita mengingat bahwa hal tersebut bukanlah akhir dari perjalanan cinta, karena masa remaja adalah waktu untuk memilih cinta yang baik. Tetap semangat, dan jangan pernah melakukan tindakan yang merugikan, baik untuk diri sendiri dan orang lain.

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

Taylor,S E.,Peplau,L.A., & Sears, D.O. (2009). Social Psychology,12th Edition (12th.ed)

Santrock, John W. (2007).

http://eprints.ums.ac.id/20313/16/11._NASKAH_PUBLIKASI.pdf

http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/03/JURNAL%20DWI%20WINDA%20(03-04-14-11-11-52).pdf

https://books.google.co.id/books/about/Psikologi_Perkembangan_Anak_Dan_Remaja.html?id=sDcYbzE-dXAC